Israel versus Palestina

Bil ditelusuri lebih mendalam, konflik dua negara ini melibatkan dua variabel penting, yaitu politik dan juga agama (teologi). Dua hal ini menjadi isu penting dalam konteks konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina ini.

 

Sebagian kalangan menilai bahwa konflik yang terjadi di antara dua negara ini pada dasarnya dilandasi oleh motif dan landasan teologis. Kedua negara berkonflik dalam rangka merebut sebuah wilayah, yang menurut klaim teologis masing-masing, merupakan hak dasar kedaulatan wilayah kenegaraannya.

 

Peliknya, wilayah itu dianggap sebagai daerah suci yang memiliki dasar teologis dalam konsep teologis agama masing-masing negara: Palestina dengan dasar teologis Islam sedangkan Israel dengan dasar teologi Yahudi.

 

 

Di atas altar postulasi teologis yang diusung masing-masing inilah, keduanya kemudian dililit oleh konflik bersenjata selama berpuluh tahun. Banyak korban telah berjatuhan tetapi semua dianggap sebagai bentuk pengorbanan yang tentu saja ada ?kompensasi immaterilnya?.

 

Dengan kata lain, kematian mereka dianggap sebagai bagian dari perjuangan suci untuk merebut wilayah yang diamanatkan Tuhan. Menyerahkan nyawa dalam perjuangan merebut tanah suci dinilai sebagai sebuah pengorbanan di jalan Tuhan. Inilah motif dasar yang oleh sebagian kalangan dipercaya menjadi landasan perjuangan kedua belah pihak. Alhasil, bara konflik menjadi tak terelakkan seiring dengan terus berkobarnya semangat teologis untuk merebut wilayah suci, yang menurut klaim masing-masing, diamanatkan Tuhan.

 

Namun, apakah yang berkembang hingga saat ini murni dilandasi motif keagamaan, atau sebenarnya lebih terikat oleh motif politik? Hipotesis ini tentu tidak tertutup sama sekali. Ada banyak alasan dan kondisi yang bisa membuat hal itu sampai terjadi. Mungkin, pada awalnya, konflik antara dua negara ini disulut oleh motif teologis. Namun lambat laun, seiring dengan masuknya berbagai motif dan kepentingan, dasar teologis telah disusupi oleh berbagai pertimbangan serta kepentingan politik. Dalam konteks ini, motif agama telah bercampur dengan pertimbangan serta kepentingan politis sehingga sulit untuk dipastikan apakah konflik yang berlangsung didasari oleh motif teologis atau politis, atau malah pembauran di antara keduanya.

 

Namun demikian, harus dipahami bahwa dalam teologis, lahirnya sebuah konsep tentu tidak bisa dipisahkan dari latar belakang sosio-kultur-politisnya. Ada sebuah latar sosial dan budaya yang tentu mewarnai lahirnya sebuah konsep teologis. Ada juga latar motif kepentingan dan pertimbangan politis. Terutama menyangkut konsep keagamaan (teologis) yang berkaitan dengan masalah politik. Itu artinya, konsep tersebut memang dilandasi oleh sebuah kepentingan dan pertimbangan politis. Ini yang membuat agama menjadi tidak ?bersih?.

 

Konflik Israel dan Palestina, bagi sebagian dari yang terlibat di dalamnya, tentu dinilai sebagai bentuk implementasi konsep teologis, termasuk di antaranya melakukan tindak kekerasan. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa, bagi sebagian yang lain, ini sarat dengan kepentingan politik: siapa yang memenangkan konflik ini akan mendapatkan keuntungan politik yang besar dengan meraih wilayah yang secara politik-geografik, sangat strategis. Setiap pihak tentu punya kesimpulan tersendiri dan dengan perspektif serta argumentasi sendiri. Lepas dari semua itu, kita sama-sama tahu bahwa baik agama maupun politik ditujukan untuk mengantarkan umat manusia mencapai cita-cita yang diinginkan. Dan tentu saja, perdamaiaan yang bersendikan pada kemanusiaan adalah cita-cita dasar itu. Secara konseptual, kita tidak bisa memungkiri bahwa dalam agama terdapat potensi untuk dilakukannya tindakan kekerasan.

 

Namun demikian, sampai kapan tindakan kekerasan akan terus dilakukan demi mencapai sebuah tujuan-tujuan yang dianggap memiliki dasar teologis. Jika keinginan Israel untuk merebut wilayah Yerusalem dianggap sebagai bagian dari titah Tuhan, lalu bagaimana agama Yahudi memahami fenomena agresi militer Israel ke Palestina dan Lebanon yang menewaskan ratusan orang tak berdosa? Dapatkah ?Tuhan penganut Yahudi? menoleransi tindakan tersebut, apalagi melegitimasinya? Demikian sebaliknya, umat Islam harus menunjukkan prinsip dasar Islam sebagai agama ?rahmat bagi alam semesta? karena Islam, pada dasarnya, mengklaim diri sebagai agama yang damai?

 

Alhasil, agama (dan politik), pada dasarnya, lahir untuk melayani manusia dan kemanusiaan. Lalu, mengapa cara kekerasan yang pada dasarnya anti-kemanusiaan, dilakukan dengan alasan kemanusiaan agama itu sendiri? Mari, dengan agama kita wujudkan perdamaiaan, dan dengan prinsip kemanusiaan, merealisasikan perdamaian agama. Perdamaiaan agama dan agama perdamaian!

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: